27.1 C
Jakarta
1 December 2021
spot_img

Latest Posts

TV One Kontrak Lembaga Survei Dadakan Menangkan Prabowo

JAKARTA-Publikasi quick count oleh TV One yang memenangkan capres Prabowo lebih dari lima digit, memantik reaksi. Mengingat lima lembaga survei yang disiarkan MetroTV, transTV, SCTV, Indosiar, TVRI dan Kompas TV, semuanya mengumumkan keunggulan capres Jokowi 52% dan capres Prabowo 47%.

Kubu capres Jokowi yang sudah mendeklarasikan keunggulan di rumah Ketua Umum PDIP Megawati di Kebagusan, Jakarta, kemudian disusul dengan deklarasi keunggulan Prabowo, di poskonya. Masyarakat kemudian bertanya-tanya. Nah ditengah kebinggungan ini, muncul Direktur Poltracking, Hanta Yudha, yang semula melakukan kontrak dgn TV one untuk mempublikasikan hasil quick countnya.

“Kalau kini ada masalah, sebenarnya yang punya masalah, bukan saya dengan tiga lembaga survei yang mengumumkan hasil quick count versinya, tapi masalah stasiun tv itu yang menjalin kerja sama dengan lembaga lain padahal tidak ada kesepakatan di awal,” jelas Direktur Poltracking, Hanta Yudha.

Hanta Yudha mengatakan, sebelumnya, telah diiklankan oleh TV One bahwa ia akan bekerjasama dengan Poltracking untuk mempublikasi hasil quick count. Tanpa sepengetahuannya, TV One menjalin kerjasama dengan tiga lembaga survei lain yaitu Puskaptis, IRC dan LSN. Dan ketiganya, mencatat kemenangan untuk kubu Prabowo-Hatta.

“Saya baru diberitahu tadi pagi (kemarin-red) ada 3 lembaga lain bersama saya, sehingga jam 10.00 WIB, saya putuskan untuk tidak dipublikasikan,” ungkap Hanta Yudha. dalam konferensi pers di Balai Kartini, Jl Gatot Subroto, Jaksel, Rabu (9/7/2014).

Hanta merasa TV One yang sebelumnya telah mengikat kerjasama dengan Poltracking tidak menghormati klausul kontrak dengannya, sehingga, Poltracking menarik kerjasama dengan TV One.

Anak Perusahaan Hary Tanoe

Lembaga survei yang menyebut kemenangan Prabowo dalam quick countnya adalah LSN, JSI, IRC, dan Puskaptis. Ternyata IRC, anak perusahaan MNC group yang dimiliki Hary Tanoe, pendukung capres Prabowo. Sedang tiga lembaga lainnya rekam jejaknya belum dikenal publik. Tiga lembaga ini, setiap survei, nyaris selalu mengunggulkan Prabowo. Artinya, ketika lembaga-lembaga survei independen lain menyebut Jokowi masih unggul dari Prabowo. 3 lembaga ini selalu menyebut Prabowo sudah melewati Jokowi.

Saat lembaga-lembaga lain menyebut Prabowo mulai mendekati Jokowi atau berselisih tipis, 3 lembaga ini menyebut Prabowo sudah melewati Jokowi cukup jauh.

Inilah yang memicu polemik panas usai coblosan Pilpres, Rabu (9/7) kemarin. Dari 10 lembaga survei yang menggelar quick count, ternyata 3 diantaranya mengunggulkan pasangan nomor urut 1 Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Tiga lembaga itu Pusat Kajian dan Pengembangan Strategis (Puskaptis), Lembaga Survei Nasional (LSN) dan Jaringan Suara Indonesia (JSI). Lantaran hasilnya nyeleneh, Dewan Etik Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) ini mempertanyakannya. Bahkan ditengarai ada manipulasi data atau manipulasi sampel.

“Kalau secara logika, tentunya dari sekian banyak itu, sesuatu yang benar itu kalau koheren dengan kebenaran-kebenaran yang lain. Jadi kalau dari 10, tujuh mengatakan A, tiga mengatakan B, kemungkinan B yang salah,” kata anggota Dewan Etik Persepi Hamdi Muluk dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (9/7) kemarin.

Sedang Sekjen Persepi Yunarto Wijaya mengatakan, ini bukan pertama kalinya Puskaptis menyampaikan hasil quick count yang jauh berbeda dari lembaga survei lain. Data berbeda juga disampaikan Puskaptis terkait dengan Pilkada Kota Palembang beberapa waktu lalu. Yunarto mengatakan, perbedaan data semacam ini dalam quick count berpotensi menimbulkan konflik di akar rumput. “Ketika didiamkan terjadi lagi, bukan pada level metodologis, ini aib dan memalukan, membuat konflik di bawah. Puskaptis karena dianggap menyesatkan harus diamankan polisi di Palembang. Kita tidak inginkan itu terjadi karena situasi memanas,” ujar Yunarto.

Menanggapi ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden menahan diri, sehingga tak memicu terjadinya konflik. Bahkan ia telah menginstruksikan kepada TNI-Polri untuk menjaga situasi agar selalu aman. Meski pelaksanaan pemilu kemarin berjalan aman dan tertib, SBY meminta penjagaan keamanan di hari-hari berikutnya hingga penetapan KPU pada 22 Juli mendatang.n jk/arm

http://www.surabayapagi.com/index.php?read~TV-One-Kontrak-Lembaga-Survei-Dadakan-Menangkan-Prabowo;3b1ca0a43b79bdfd9f9305b812982962593ec13b14d28e037fa26f3d399c7f76

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.