27.1 C
Jakarta
17 January 2022
spot_img

Latest Posts

Menteri Susi Diminta Kaji Ulang Kebijakan Transhipment

JAKARTA – Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) meminta pemerintah untuk cepat memperketat pengaturan bongkar-muat ikan di laut atau transhipment dan melibatkan nelayan dalam proses penyusunannya.

Ketua Dewan Pembina KNTI Riza Damanik mengatakan, transhipment bukanlah barang haram dalam aktivitas usaha perikanan tangkap. Tidak saja di negara lain, bahkan dalam Peraturan Menteri KKP tentang Usaha Perikanan Tangkap sekalipun aktivitas ini dimungkinkan dengan menyertakan definisi penangkapan ikan dalam satu kesatuan dengan aktivitas pengangkutan ikan.

“Maka melarang seluruh aktivitas transhipment menciptakan konflik di dalam kebijakan itu sendiri,” kata Riza dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Jumat (23/1/2015).

Riza menjelaskan, dalam Peraturan Menteri kelautan dan Perikanan terkait Usaha Perikanan Tangkat menyebutkan bahwa penangkapan ikan adalah kegiatan untuk memperoleh ikan di perairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat atau cara apapun, termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan, menangani, mengolah, dan atau mengawetkannya.

“KNTI setuju dan mendukung pemerintah untuk memberantas transhipment ‘abal-abal’ yang merugikan negara, terutama untuk komoditas tuna. Namun perlu diingat, kepentingan mendasar dari transhipment adalah efektivitas dan efisiensi dalam penggunakan faktor-faktor produksi, utamanya Bahan Bakar Minyak. Di sinilah tantangan pemerintah: memilah dan memilih, hingga menutup rapat praktik transhipment ‘abal-abal’ tadi,” tambahnya.

Menurut dia, ada dua motif transhipment yang sangat merugikan bangsa Indonesia. Pertama, transhipment untuk membawa ikannya langsung ke luar negeri. Kedua, transhipment di dalam negeri, namun dimaksudkan untuk mengacaukan data pelaporan tangkapan yang menyebabkan terjadinya under-reporting atau pelaporan yang dimanipulasi.

“KNTI dapat memahami kebijakan yang diambil saat ini (melarang seluruh transhipment) sebagai kebijakan temporer atau sementara menuju pengaturan transhipment yang benar-benar menguntungkan rakyat Indonesia. Nelayan harus diajak berkonsultasi. Maksimum Maret atau April pemerintah sudah harus datang dengan pilihan kebijakan terbaik,” pungkasnya.

http://economy.okezone.com/read/2015/01/23/320/1096035/menteri-susi-diminta-kaji-ulang-kebijakan-transhipment

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.