26.3 C
Jakarta
1 December 2021
spot_img

Latest Posts

Kisah ‘Srimulat’ di Panggung Saksi MK

Jakarta – Mahkamah Konstitusi menggelar sidang kedua gugatan sengketa Pilpres yang diajukan kubu Prabowo Subianto pada Jumat (8/8) kemarin dengn agenda mendengarkan saksi. Kesaksian sejumlah saksi kubu Prabowo memancing gelak tawa, bak Srimulat yang fenomenal dengan banyolan khasnya.

“Srimulat-srimulat itu bermunculan di panggung saksi. Hiburan tak disangka-sangka oleh hakim-hakim MK,” kicau politikus muda Golkar yang merapat di kubu Jokowi-JK, Indra Piliang, Sabtu (9/8/2014) pagi.

Proses persidangan di MK kemarin memang tidak selalu berlangsung serius. Ada tawa hakim dan hadiri selama persiangan berlangsung sampai hampir tengah malam.

Hakim Konstitusi Patrialis Akbar sempat berkelakar saat ada seorang saksi bernama Slamet. Slamet adalah saksi pelapor dari kubu Prabowo-Hatta saat rekapitulasi suara di tingkat Kecamatan Koja, Jakarta.

“Slamet ini orang yang pertama kali sampai di bulan bersama Neil Amstrong, karena Neil Amstrong tiba di bulan dengan selamet,” canda hakim konstitusi Patrialis Akbar yang sontak disambut tawa kecil hadirin.

Dalam kesaksiannya, Slamet sebagai saksi tim Prabowo-Hatta mempermasalahkan banyaknya angka pemilih yang nyoblos dengan KTP atau DPKTb di Kecamatan Koja. Total ada 9.912 orang yang memilih dengan KTP se-Kecamatan Koja. Slamet sebagai saksi, meminta Panwas mengecek kebenaran jumlah DPKTb itu dengan memeriksa bukti di kotak suara berupa fotocopy KTP.

“Saya minta pemungutan suara ulang (PSU) di semua TPS, karena terbukti ada KTP daerah (dalam kotak suara). Tapi hanya dikabulkan PSU di 1 TPS,” ujarnya

Perbedaan hasilnya kalau 9 April pasangan nomor satu kalah…,” lanjutnya bermaksud menjelaskan 9 Juli.

“Waktu 9 April dapat berapa dan setelahnya berapa?” timpal Patrialis yang juga bermaksud menyebut 9 Juli.

“Nomor satu 192 suara, nomor dua 240 suara. Setelah PSU hasilnya ternyata kebalikannya, Prabowo menang selisih 9 suara,” terang Slamet bersemangat.

“Berapa suaranya? Bukan selisihnya..” Potong Patrialis.

“Angkanya di C1 saya tidak bawa tapi saya ingat selisihnya 9 suara. Datanya bisa ditanyakan ke KPU,” ucap Slamet datar seolah memerintahkan hakim.

“Jangan perintahkan hakim. Hakim yang minta harusnya,” timpal Patrialis sedikit tertawa.

Slamet melanjutkan kesaksiannya, bahwa secara tidak sengaja dia melewati kantor kecamatan Koja yang dijaga banyak polisi karena akan ada pembongkaran 113 kotak suara untuk mengecek bukti-bukti dari TPS. Slamet yang belum mendapat undangan dalam pengecekan alat bukti itu penasaran dan langsung masuk ke kantor kecamatan yang dijaga polisi.

“Anda tidak diberitahu dan hanya kebetulan lewat?,” tanya Patrialis

“Iya. Saya di sana ketika datang disambut polisi, ‘Pak Slamet mari-mari sudah ditunggu’. Padahal saya tidak diundang,” kata Slamet.

“Wah perjalanan anda mujur skali,” ucap Patrialis.

“Iya pak, (nama saya) Slamet,” timpalnya datar disambut tawa ruang sidang.

Selain Slamet ada beberapa saksi yang ditegur hakim konstitusi karena dinilai main-main saat memberikan kesaksian. Padahal para saksi sudah disumpah di bawah Alquran. (Elvan Dany Sutrisno – detikNews, Sabtu, 9 Agustus 2014)

http://news.detik.com/pemilu2014/read/2014/08/09/111106/2657554/1562/1/kisah-srimulat-di-panggung-saksi-mk

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.