24.1 C
Jakarta
14 January 2022
spot_img

Latest Posts

Bunyi Kentungan Tanda Bahaya Bisingkan Kementerian ESDM

JAKARTA –  Tingginya konsumsi sumber energi fosil seperti minyak, gas, dan batubara telah berdampak pada kerusakan lingkungan. Padahal, negara kita punya banyak sumber daya energi terbarukan seperti aliran sungai, panas bumi dan angin. Menyikapi kondisi tersebut, Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) mendesak pemerintah men­inggalkan penggunaan sumber energi fosil dan beralih ke sumber energi terbarukan.

Puluhan aktivis JATAM menggelar aksi damai ‘Move On ke Energi Terbarukan’ di depan Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, kemarin. Dalam aksi yang dimulai pukul 15.00 Wib itu, mereka mendesak pemer­intah menghentikan eksploitasi alam dan pembukaan investasi demi produksi energi fosil dan segera beralih ke sumber energi terbarukan.

Peserta aksi membentang­kan spanduk berukuran 1,5 meter kali 20 meter bertulis­kan: ‘Tinggalkan Energi Fosil, Dorong Energi Terbarukan’. Sementara beberapa lainnya mem­bawa poster bertuliskan: ‘Kenapa Pake Batubara Kan Ada Energi Terbarukan’, ‘Pilih Pelestarian Lingkungan atau Energi Fosil’, ‘Bumi Kita Menangis Merintih’, ‘People In Danger’, dan ‘Energi Fosil Penyebab Kerusakan Lingkungan’. Seorang peserta bertugas membunyikan kentun­gan sebagai bentuk peringatan kepada masyarakat soal bahaya konsumsi energi fosil.

Koordinator JATAM, Hendrik Siregar, mengemukakan negara kita selama ini terkenal seba­gai negara pengekspor batu­bara terbesar di dunia. “Pada saat yang sama, negara kita juga menjadi negara pengimpor minyak lantaran stok energi  minyak dan gas dalam negeri semakin minim,” katanya, dalam keterangan persnya.

Minyak dan batubara, lan­jutnya, merupakan energi fosil yang telah berkontribusi pada pemanasan global dan perubahan iklim secara signifikan. “Energi fosil berkontribusi pada pening­katan kadar emisi karbon yang mencapai 400 ppm. Padahal, ambang batas emisi karbon yang aman bagi manusia adalah 350 ppm,” ujarnya.

Hendrik menuturkan, pertam­bangan batubara di Indonesia telah menimbulkan kerusakan daya dukung alam untuk ekologi maupun makhluk hidup. “Lubang-lubang bekas tambang di Samarinda telah banyak me­nelan korban jiwa. Selain itu, perusakan hutan, penggusuran lahan pertanian, praktek korupsi yang merajalela adalah wajah horor pertambangan di negara kita,” katanya. Dia menyayangkan, anggaran tahun 2015 senilai Rp 9 triliun yang diajukan untuk pengembangan energi terbarukan malah dihapus DPR. “Amerika Serikat saja telah menutup ratusan PLTU-nya dan beralih ke energi ramah lingkungan. Sementara, kita belum bisa mengurangi laju produksi dan konsumsi energi fosil,” ungkapnya.

Media Komunikasi & Monitoring JATAM, Saji Faturrahman menambahkan, pihaknya mengajak masyarakat untuk menolak semua bentuk investasi pada sektor energi fosil. “Kita bisa menyerukan agar bank-bank berhenti mengucurkan dana in­vestasi di sektor pertambangan dan beralih ke investasi energi terbarukan,” desaknya.

Langkah pertama adalah me­minta pemerintah serius mem­perkuat gerakan penggunaan energi ramah lingkungan.

“Rakyat Indonesia yang berada di kampung-kampung terpaksa menderita demi pemenuhan kon­sumsi energi kita, mereka kehi­langan tanah, rumah, dan mata pencaharian saat eksploitasi alam terus berlansung,” ujarnya.

Dalam peringatan Global Divestment Day pada 13 Februari ini, katanya, pihaknya mengajak semua pihak untuk peduli pada kondisi alam yang sudah banyak dirusak.

“Pemanasan global dan perubahan iklim merupakan dampak dari penggunaan energi fosil. Bila kita peduli, mari kita move on ke sumber energi terba­rukan,” pungkasnya.

http://www.rmol.co/read/2015/02/14/191559/Bunyi-Kentungan-Tanda-Bahaya-Bisingkan-Kementerian-ESDM-

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.