26.3 C
Jakarta
22 October 2021
spot_img

Latest Posts

ICONplus, Potensi “Emas” yang Terbuang

Oleh: Teuku Neta Firdaus

Kenapa anak perusahaan PT PLN (Persero), PT ICONplus tidak mampu maksimalkan untung malah “buntung”, periode 2012 ICONplus hanya mampu memperoleh pendapatan Rp.1.001.472.000.000 (satu triliun satu miliar empat ratus tujuh puluh dua juta rupiah) dengan laba bersih Rp.32.922.000.000 (tiga puluh dua miliar sembilan ratus dua puluh dua juta rupiah).

Ironisnya, pengelola ICONplus pada Tahun 2015 telah melakukan kontrak dengan perusahaan asing, Nano LBS Sky dari Korea, dengan tujuan menguasai back bone Nano, ini berbahaya buat bangsa.

Seharusnya ICONplus bisa mendirikan sekaligus menyiarkan program Presiden kepada masyarakat melalui siaran *TV Presiden* secara gratis.
Sebenarnya ICONplus setiap tahun bisa memperoleh pendapatan laba bersih minimal Rp. 5.000.000.000.000.- (lima triliun rupiah), dipastikan laba bersih setiap tahun bisa naik 100 % (seratus persen). Ada beberapa sumber kongkrit jika disinergikan dengan PLN, menjadi pendapatan berlimpah ICONplus untuk negara.

Menurut saya ada 3 (tiga) alasan kenapa ICONplus “Miskin” padahal “Kaya”, seperti potensi “tambang emas” yang belum digali, yaitu:

1). _*Wasted Opportunity*_ (menyia-nyiakan kesempatan).

Pengelola hanya sibuk diruang sempit, networking yang kaku, internal seharusnya bersanding bukan bertanding, seolah-olah solid, hanya melihat bungkusan laporan bagus, ternyata pupus.
Masalah tersebut terjadi karena Presiden hanya mendengar kata-kata manis “bigboss” pengelola, sehingga suara dari “jalanan” seperti “kecap basi”. Mudah-mudahan tidak demikian.

2). _*Wasted Capability*_ (menyia-nyiakan kecakapan).

Sudah satu dekade ICONplus seperti macan “ompong”, pengelola memang punya sederet gelar dan prestasi, gaji besar, tapi itu semua hanya buat pribadi dan kelompok mereka, sedangkan negara sebagai pemilik perusahaan hanya bisa nyegir, senyum “kebodohan” ketika mereka berbicara hebat menggunakan istilah-istilah kata yang membingungkan. Selama ini kita banyak tertipu dengan “kesing”. Sudah saatnya penguasa berani mengistirahatkan pengelola ICONplus. Target pendapatan menjadi prioritas negara kepada pengelola berikutnya.

3). _*Wasted Income*_ (menyia-nyiakan pendapatan).

Para Komut, komisaris, Dirut dan Direksi BUMN tentunya akan mengatakan bahwa mereka telah berusaha sebaik mungkin agar perusahaan ini bisa maju. Namun hanya mereka yang tahu apakah mereka benar-benar bersungguh-sungguh atau tidak dalam bekerja. Terkadang pengelola kurang motivasi, inovasi dan integrasi. Karenanya pengelola tidak ada beban dan tidak mampu berbuat banyak untuk mendongkrak pendapatan, karena penguasa dianggap “roh jahat” sesekali cukup diberikan sesajen.

Mereka tidak bisa mengubah dirinya ke bisnis yang lebih luas berdasarkan persaingan bebas. Dengan infrastruktur luarbiasa hebatnya seharusnya PT ICON+ (anak perusahaan PT PLN Persero) dalam satu dekade sudah mampu mengantongi laba bersih Rp.50.000.000.000.000 (lima puluh triliun rupiah). Perubahan mustahil terwujud jika penguasa tidak “militan”. Sebagaimana Sekretaris Menteri BUMN (10/09/15) menyebutkan bahwa berdasarkan data kementerian BUMN pada Tahun 2013 terdapat 30 BUMN yang mengalami kerugian, dari sejumlah perusahaan itu, kerugian paling besar dialami PT PLN (Perusahaan Listrik Negara) yang mencatat kerugian sebesar Rp. 29,5 Triliun.

Seburuk apapun kondisi keuangan BUMN, meskipun “korup” pengelola tetap mendapat fasilitas istimewa, dari gaji besar, fasilitas ala juragan sampai “ampunan” dari pemerintah. Meskipun keadaan rugi “boss-boss” BUMN itu tidak mendapat sangsi apapun dari pemerintah. Anehnya, pemerintah tetap memberi suntikan modal melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) puluhan hingga ratusan triliun. Ada benarnya jika Menkeu Sri Mulyani minta KPK “beresin” PLN. Diduga Korupsi disana sangat rapi, mengakar dan membudaya. Wallahu’alam.

Direktur Eksekutif The Jokowi Center

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.