Pujian untuk Jokowi saat Memakai Pakaian Adat Sabu Raijua: Masyarakat NTT Bangga

Bupati Sabu Raijua Nikodemus Rihi Heke terharu dan bangga melihat Presiden Joko Widodo mengenakan pakaian adat Sabu bermotif bunga Ros saat menghadiri Sidang Tahunan MPR, Jumat (14/8).

“Bunga Ros melambangkan kesucian hati. Dan, pakaian yang dikenakan Presiden Jokowi dipakai semua kalangan mulai dari rakyat kecil sampai bangsawan yang ada di Sabu Raijua. Motif seperti ini dikenakan semua kalangan tanpa membedakan strata sosial di tengah kehidupan bermasyarakat,” kata Bupati Rihi Heke kepada Pos Kupang.

“Ini menunjukkan kita Indonesia, kita NTT, kita Sabu Raijua. Walaupun berada di Selatan Indonesia tapi Presiden sangat cinta hasil karya perempuan Sabu Raijua,” ucap Bupati Rihi Heke dengan suara terbata-bata.

Menurutnya, pesan yang ingin disampaikan Presiden Jokowi bahwa warga harus mencintai hasil budaya sendiri. Untuk itu, pada setiap kesempatan di manapun berada, Bupati Rihi Heke mendorong dan memotivasi generasi muda untuk terus berkarya melalui kegiatan menenun.

Pemerintah Sabu Raijua terus mendukung kegiatan kaum ibu dalam usaha menenun dengan memberikan benang untuk mereka bisa terus berkarya.

“Saya bangga karena banyak pejabat nasional maupun daerah termasuk para artis banyak mengenakan pakaian adat Sabu Raijua. Bapak Presiden mengenakan juga motif bunga Ros. Saya tidak banyak berkata-kata dan mengucapkan terima kasih buat Bapak Presiden dan mendoakan agar tetap sehat dalam memimpin bangsa ini,” ucap Bupati Rihi Heke.

Ia menyebut, tenun khas Sabu yakni Ei atau sarung Higi atau selimut dan Naleda atau selendang tenun yang dibuat dengan menggunakan benang.

Ketua DPRD Sabu Raijua Paul Rabe Tuka juga terharu dan bangga melihat Jokowi mengenakan pakaian adat Sabu.”Secara pribadi dan selaku pimpinan lembaga DPRD, saya merasa bangga dan gembira melihat yang mulia Presiden Jokowi memakai tenun Sabu Raijua,” ucap Paul.

Ia memaknai Presiden Jokowi sangat menghormati hasil karya penenun NTT umumnya dan Sabu Raijua khususnya.

“Apalagi dikenakan pada momen menjelang HUT ke-75 Kemerdekaan RI memberi pesan kepada generasi muda untuk mencintai hasil budaya sendiri. Ini pertanda cinta Jokowi yang besar kepada NTT dan penghargaan buat kaum perempuan penenun di NTT,” ujarnya.

Paul berharap, untuk mengenang kaum perempuan yang menenun di tengah berbagai masalah ekonomi yang ada, Kementerian UMKM perlu menaruh perhatian pendanaan untuk ibu-ibu penenun yang tersebar di Flobamora-Rote-Sabu Raijua.

“Untuk generasi muda harus bangkitkan budaya menenun. Presiden sudah memberi contoh dengan mengenakan pakaian hasil karya anak bangsa sendiri. Mari kita rajut kebersamaan, saling menjaga toleransi dari NTT. Dari Sabu sebagai wilayah terselatan Indonesia, kami mendokan Presiden Jokowi agar tetap sehat dalam memimpin bangsa kita tercinta,” imbuh politisi PDIP ini.

Simbol Kejayaan
Tokoh masyarakat Sabu, Simon Riwu Kaho menjelaskan, busana adat Sabu yang dipakai Presiden Jokowi membuat masyarakat NTT, terkhususnya masyarakat Sabu bangga.

“Saya salah satu putra NTT bangga karena presiden Jokowi menggunakan pakaian adat Sabu dalam kegiatan kebesaran negara atau sidang tahunan MPR,” kata Simon ketika dihubungi via telepon, Sabtu (15/8).

Simon menyampaikan, pakaian adat Sabu berwarna keemasan melambangkan sosok raja. Orang Sabut sebut ‘Deo Rai’. “Tidak sembarang dipakai, kecuali keturunan raja dan pemimpin daerah di saat acara-acara penting,” ujarnya.

Menurut Simon, pakaian adat yang digunakan oleh tokoh-tokoh adat di Sabu, biasanya benang dipintal dan ditenun. “Kita harus mendukung Presiden dalam memperkenalkan hasil kain tenun daerah kepada orang luar. Kita sebagai masyarakat NTT harus mendukung pemerintah maupun kelompok penenun untuk perkenalkan hasil tenun daerah ke orang luar,” katanya.

Simon menuturkan, ada bermacam-macam pakaian adat sabu, seperti pakaian adat yang dipakai untuk acara suka cita, duka cita serta acara penting lainnya. “Namun ada selimut khusus yang dirancang untuk dipakai di kepala itu wajar saja dipakai dalam acara sukacita maupun dukacita,” jelasnya.

Ia menjelaskan, pemakaian adat Sabu yang benar teridri baju putih, selimut besar dipakai sebagai pengganti celana (tanpa celana panjang).

“Biasanya diberikan kesempatan kepada tamu untuk pakai selimut dari luar celana. Namun di acara adat yang benar itu tidak boleh gunakan alas celana panjang, hanya selimut saja yang digunakan,” tandasnya.

Pemilik Sanggar Wuri Wini Hawu Hendrik Bunga mengatakan, pakaian adat Sabu yang dikenakan Presiden Jokowi adalah pakaian Raja Mone Ama dengan motif mawar peloro.

“Motif mawar artinya bunga yang cantik dan berkembang serta harum. Motif di selendang, penataan motif bunga dengan tangkai yang tersambung-sambung melambangkan pemimpin yang harus bekerja terus dan tidak pernah putus-putus,” jelas Hendrik.

Menurutnya, motif mawar berarti jujur dan adil. Sedangkan peloro berarti lurus terus berjalan. “Pemimpin bangsa harus bertanggung jawab kepada negara, jangan ada pemimpin yang buat menyimpang. Peloro artinya lurus terus berjalan,” ujarnya.

“Pemimpin harus bekerja terus tidak ada siang dan malam. Dasarnya kesejahteraan rakyat untuk mewangikan Indonesia,” tambah Hendrik.

Sarung, selendang, topi hingga aksesoris ikat kepala, ikat pinggang dan kalung yang semuanya didominasi warna dasar hitam dan emas, memiliki makna masing-masing.

Sarung yang dipakai Jokowi disebut dengan Hi’gi Worapi yang biasanya terdiri dari tiga warna, yaitu hitam, putih atau kuning dan merah. Sementara itu baju berwarna emas bermotif bunga yang dipakai Jokowi biasa digunakan untuk penyambutan para kepala adat atau tokoh besar.

Aksesoris kalung, dalam bahasa Sabut disebut Wonahi’da dan atau Rate Mela. Ini menandakan bahwa setiap insan memiliki harga diri dan patut dihargai dan dihormati.

Adapun ikat pinggang emas menandakan setiap insan harus memiliki hati yang bersih. Kemudian motif bunga yang saling bertautan bermakna saling bantu membantu.

Sedangkan ikat kepala atau topi, disebut Kewahu Kattu, merupakan lambang kejayaan terlihat dari bagian runcing di bagian atas topi.

Sementara itu, anggota DPD RI asal NTT, dr Asyera RAWundalero mengaku bangga melihat secara langsung Presiden Jokowi mengenakan pakaian adat Sabu Raijua motif bunga Ros.

“Saya atas nama masyarakat NTT menyampaikan terima kasih kepada Presiden Jokowi yang sudah mengenakan pakaian adat NTT dalam acara kenegaraan. Masyarakat NTT bangga atas penghargaan ini,” ucap Asyera.

Menurutnya, penghargaan ini menunjukan nilai-nilai budaya yang menyatu dalam kebhinekaan. Karena dalam keberagamaan ada perpaduan warna yang indah. Itulah Indonesia yang sudah diwariskan oleh leluhur bangsa.

“Hal yang membanggakan, motif bunga Ros dalam budaya Sabu melambangkan kesucian hati dan pakaian yang dikenakan Presiden inipun sebagian besar kalangan mulai dari rakyat kecil sampai bangsawan yang ada di Sabu Raijua pun mengenakan,” ujarnya.

Presiden Jokowi terlihat mengenakan baju adat Sabu saat menghadiri Sidang Tahunan MPR, Jumat (14/8). Jokowi hadir sekitar pukul 08.20 WIB. Ia langsung masuk ke dalam Gedung Parlemen MPR/DPR.

Kepala Negara mengenakan kemeja hitam lengan panjang dengan balutan kain dan topi berwarna emas. Sedangkan Wakil Presiden Maruf Amin mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan dasi berwarna merah.

Baju adat pria Sabu adalah kemeja putih lengan panjang, selendang dan bawahan. Selendang yang digunakan adalah sarung tenun yang diselempangkan pada bagian bahu. Selain itu, masih ada ikat kepala yang terbuat dari emas kalung mutisalak, sabuk berkantong, dan perhiasan kalung dan leher.

Sedangkan untuk baju wanita Sabu berupa kebaya dan kain tenun. Kain tenun atau pending ini merupakan sarung yang diikat dipinggang. Tidak kalah mewah, ikat kepalanya berupa mahkota 3 tiang terbuat dari emas.

Perhiasan lainnya adalah kalung yang disebut mutisalak, kalung habas, satu pasang gelang emas, dan sabuk yang memiliki kantong.

Berdasarkan Informasi yang dirilis Kantor Staf Presiden, filosofi di balik baju Presiden ialah Pulau Rote/Sabu adalah pulau terdepan di bagian ujung selatan Indonesia.Selain itu, Presiden juga ingin menunjukkan bahwa Indonesia kaya dengan seni kriya, salah satunya tenun yang merupakan bagian dari kekayaan budaya nusantara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkait